Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

Perbedaan Arsitektur Modern dan Post Modern

1. Latar Belakang Sejarah

Arsitektur Modern,

Arsitektur Modern berkembang pada awal abad ke-20, terutama setelah Revolusi Industri dan Perang Dunia I. Gaya ini lahir sebagai tanggapan terhadap kebutuhan akan efisiensi, kecepatan pembangunan, dan perubahan sosial yang besar. Para arsitek Modern berusaha meninggalkan gaya-gaya historis dan klasik yang dianggap sudah tidak relevan dengan zaman industri. Gerakan ini dipengaruhi oleh prinsip-prinsip rasionalitas, fungsionalitas, serta teknologi baru dalam konstruksi.

Arsitektur Postmodern,

Arsitektur Postmodern muncul pada akhir 1960-an dan mencapai puncaknya pada 1980-an sebagai reaksi terhadap kekakuan, keseragaman, dan ketidakpedulian terhadap konteks lokal dari arsitektur Modern. Arsitek Postmodern mulai mengevaluasi kembali nilai-nilai sejarah, simbolisme, dan budaya populer dalam desain bangunan. Mereka menolak gagasan bahwa satu prinsip atau gaya bisa diterapkan secara universal, dan justru menekankan pluralitas, keragaman, serta ekspresi pribadi dalam arsitektur.


2. Prinsip Desain

Modern

Prinsip utama: “Form follows function” (Bentuk mengikuti fungsi).

-Menekankan rasionalitas, efisiensi, dan kesederhanaan. 

-Berusaha menciptakan desain yang universal dan netral, tanpa terlalu memperhatikan konteks budaya atau sejarah.

Postmodern

-Menolak prinsip tunggal dan membuka diri pada berbagai pendekatan.

-Menekankan simbolisme, narasi visual, dan ekspresi makna.

-Menggabungkan unsur sejarah, budaya lokal, bahkan humor dan ironi ke dalam desain.


3. Karakteristik Visual

Modern

-Bentuk bangunan geometris, linier, dan simetris.

-Minim ornamen atau dekorasi.

-Tampilan bersih, polos, dan sering kali terkesan dingin atau kaku.

-Fokus pada struktur dan fungsi tanpa basa-basi estetika.

Postmodern

-Bentuk bangunan lebih bebas, kompleks, dan asimetris.

-Menggunakan elemen dekoratif dari berbagai gaya arsitektur masa lalu, termasuk klasik, gotik, atau art deco.

-Tampilan lebih berwarna dan ekspresif.

-Bisa bersifat ironis atau bermain dengan simbol-simbol arsitektur tradisional.


4. Material yang Digunakan

Modern

-Beton bertulang, kaca, dan baja.

-Material diekspos dan tidak disembunyikan, sebagai simbol kejujuran struktural.

-Menghindari penggunaan bahan yang berfungsi hanya sebagai dekorasi.

Postmodern

-Menggunakan berbagai jenis material, baik modern maupun tradisional.

-Tidak ragu menampilkan material untuk estetika, bukan hanya fungsi.

-Bisa menggabungkan batu bata, keramik, logam, bahkan ornamen klasik sebagai hiasan.


5. Warna

Modern

-Warna netral dan monokromatik, seperti putih, hitam, abu-abu.

-Fokus pada kesederhanaan dan keteraturan visual.

Postmodern

-Warna-warni, kontras tinggi, dan berani.

-Warna digunakan sebagai ekspresi dan komunikasi visual, bukan sekadar pelengkap.


6. Contoh Arsitek dan Karya

Modern

-Le Corbusier – Villa Savoye, Prancis.

-Ludwig Mies van der Rohe – Farnsworth House, AS.

-Walter Gropius – Bauhaus Dessau, Jerman.

Postmodern

-Robert Venturi – Vanna Venturi House.

-Michael Graves – Portland Building.

-Charles Moore – Piazza d’Italia, New Orleans.


7. Tujuan dan Nilai Estetika

Modern

-Menyediakan ruang yang fungsional dan efisien.

-Menyederhanakan bentuk agar sesuai dengan kebutuhan zaman industri.

-Menciptakan keseragaman desain yang dianggap objektif dan ilmiah.

Postmodern

-Mengembalikan makna dan emosi ke dalam arsitektur.

-Menyesuaikan desain dengan konteks budaya, sejarah, dan sosial.

-Menunjukkan bahwa arsitektur juga bisa menjadi medium komunikasi dan ekspresi.


Kesimpulan

Arsitektur Modern dan Postmodern mewakili dua pendekatan yang sangat berbeda dalam dunia desain bangunan. Arsitektur Modern bersifat rasional, fungsional, dan minim ornamen, berusaha menciptakan bangunan yang efisien dan universal. Sebaliknya, arsitektur Postmodern bersifat ekspresif, pluralis, dan komunikatif, dengan menggabungkan unsur sejarah, simbol, dan budaya ke dalam desainnya. Perbedaan ini mencerminkan perubahan nilai-nilai dalam masyarakat dan menunjukkan bahwa arsitektur tidak hanya soal bangunan fisik, tetapi juga soal makna, konteks, dan pengalaman manusia di dalamnya.

ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR

Hasil gambar untuk contoh karya arsitektur neo vernakular
Arsitektur Neo-Vernakular merupakan suatu paham dari aliran Arsitektur Post-Modern yang lahir sebagai respon dan kritik atas modernisme yang mengutamakan nilai rasionalisme dan fungsionalisme yang dipengaruhi perkembangan teknologi industri. Arsitektur Neo-Vernakular merupakan arsitektur yang konsepnya pada prinsipnya mempertimbangkan kaidah-kaidah normative, kosmologis, peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat serta keselarasan antara bangunan, alam, dan lingkungan.
Arsitektur neo-vernakular, tidak hanya menerapkan elemen-elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern tapi juga elemen non fisik seperti budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak, religi dan lain-lain. Bangunan adalah sebuah kebudayaan seni yang terdiri dalam pengulangan dari jumlah tipe-tipe yang terbatas dan dalam penyesuaiannya terhadap iklim lokal, material dan adat istiadat. (Leon Krier, 1971).
Menurut Charles Jencks dalam bukunya “language of Post-Modern Architecture (1990)” maka dapat dipaparkan ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernakular selalu menggunakan atap bumbungan. Atap bumbungan menutupi bagian tembok sampai hampir ke tanah sehingga lebih banyak atap yang diibaratkan sebagai elemen pelidung dan penyambut, dari pada tembok yang digambarkan sebagai elemen pertahanan yang menyimbolkan permusuhan. Batu bata (dalam hal ini merupakan elemen konstruksi lokal). Bangunan didominasi penggunaan batu bata abad 19 gaya Victorian yang merupakan budaya dari arsitektur barat. Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan proporsi yang lebih vertikal. Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan ruang terbuka di luar bangunan. Dari ciri-ciri di atas dapat dilihat bahwa Arsitektur Neo-Vernakular tidak ditujukan pada arsitektur modern atau arsitektur tradisional tetapi lelbih pada keduanya. Hubungan antara kedua bentuk arsitektur diatas ditunjukkan dengan jelas dan tepat oleh Neo-Vernakular melalui trend akan rehabilitasi dan pemakaian kembali.

Pengertian Arsitektur Neo-vernkular
Kata NEO atau NEW berarti baru atau hal yang baru, sedangkan kata vernacular berasal dari kata vernaculus (bahasa latin) yang berarti asli. Maka arsitektur vernakular dapat diartikan sebagai arsitektur asli yang dibangun oleh masyarakat setempat.
Arsitektur Vernakular konteks dengan lingkungan sumberdaya setempat yang dibangun oleh masyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan karakteristik yang mengakomodasi nilai ekonomi dan tatanan budaya masyarakat dari masyarakat tersebut. Dalam pengertian umum, arsitektur Vernacular merupakan istilah yang banyak digunakan untuk menunjuk arsitektur indigenous kesukaan, tribal, arsitektur kaum petani atau arsitektur tradisional.
Pengertian Arsitektur Vernakular sering disamakan dengan Arsitektur Tradisional. Joseph Prijotomo berpendapat bahwa secara konotatif tradisi dapat diartikan sebagai pewarisan atau penerusan norma-norma adat istiadat atau pewarisan budaya yang turun-temurun dari generasi ke generasi.

Ciri-ciri Arsitektur Neo-vernakular
Dari pernyataan Charles Jencks dalam bukunya “language of Post-Modern Architecture (1990) maka dapat dipaparkan ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernakular sebagai berikut.
1)      Selalu menggunakan atap bumbungan.
Atap bumbungan menutupi tingkat bagian tembok sampai hampir ke tanah sehingga lebih banyak atap yang diibaratkan sebagai elemen pelidung dan penyambut dari pada tembok yang digambarkan sebagai elemen pertahanan yang menyimbolkan permusuhan.
2)      Batu bata (dalam hal ini merupakan elemen konstruksi lokal).
Bangunan didominasi penggunaan batu bata abad 19 gaya Victorian yang merupakan budaya dari arsitektur barat.
3)      Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan proporsi yang lebih vertikal.
4)      Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan ruang terbuka di luar bangunan.
5)      Warna-warna yang kuat dan kontras.
Dari ciri-ciri di atas dapat dilihat bahwa Arsitektur Neo-Vernakular tidak ditujukan pada arsitektur modern atau arsitektur tradisional tetapi lelbih pada keduanya. Hubungan antara kedua bentuk arsitektur diatas ditunjukkan dengan jelas dan tepat oleh Neo-Vernacular melalui trend akan rehabilitasi dan pemakaian kembali atap miring,batu bata sebagai elemen local, susunan masa yang indah.
Mendapatkan unsur-unsur baru dapat dicapai dengan pencampuran antara unsur setempat dengan teknologi modern, tapi masih mempertimbangkan unsur setempat, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
ü  Bentuk-bentuk menerapkan unsur budaya, lingkungan termasuk iklim setempat diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural  (tata letak denah, detail, struktur dan ornamen).
ü  Tidak hanya elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern, tetapi juga elemen non-fisik yaitu budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak yang mengacu pada makro kosmos, religi dan lainnya menjadi konsep dan kriteria perancangan.
ü  Produk pada bangunan ini tidak murni menerapkan prinsip-prinsip bangunan vernakular melainkan karya baru (mangutamakan penampilan visualnya).

Prinsip – Prinsip Desain Arsitektur Neo-Vernakular
Adapun beberapa prinsip-prinsip desain arsitektur Neo-Vernakular secara terperinci adalah sebagai berikut.
1.       Hubungan Langsung, merupakan pembangunan yang kreatif dan adaptif terhadap arsitektur setempat disesuaikan dengan nilai-nilai/fungsi dari bangunan sekarang.
2.       Hubungan Abstrak, meliputi interprestasi ke dalam bentuk bangunan yang dapat dipakai melalui analisa tradisi budaya dan peninggalan arsitektur.
3.       Hubungan Lansekap, mencerminkan dan menginterprestasikan lingkungan seperti kondisi fisik termasuk topografi dan iklim.
4.       Hubungan Kontemporer, meliputi pemilihan penggunaan teknologi, bentuk ide yang relevan dengan program konsep arsitektur.
5.       Hubungan Masa Depan, merupakan pertimbangan mengantisipasi kondisi yang akan datang.

Tinjauan Arsitektur Neo-vernakular

Perbandingan
Tradisional
Vernakular
Neo-vernakular
Ideology
Terbentuk oleh tradisi yang diwariskan secara turun-temurun,berdasarkan kultur dan kondisi lokal.
Terbentuk oleh tradisi turun temurun tetapi terdapat pengaruh dari luar baik fisik maupun nonfisik, bentuk perkembangan arsitektur tradisional.
Penerapan elemen arsitektur yang sudah ada dan kemudian sedikit atau banyaknya mengalami pembaruan menuju suatu karya yang modern.
Prinsip
Tertutup dari perubahan zaman, terpaut pada satu kultur kedaerahan, dan mempunyai peraturan dan norma-norma keagamaan yang kental
Berkembang setiap waktu untuk merefleksikan lingkungan, budaya dan sejarah dari daerah dimana arsitektur tersebut berada. Transformasi dari situasi kultur homogen ke situasi yang lebih heterogen.
Arsitektur yang bertujuan melestarikan unsur-unsur lokal yang telah terbentuk secara empiris oleh tradisi dan mengembang-kannya menjadi suatu langgam yang modern. Kelanjutan dari arsitektur vernakular
Ide desain
Lebih mementingkan fasat atau bentuk, ornamen sebagai suatu keharusan.
Ornamen sebagai pelengkap, tidak meninggalkan nilai- nilai setempat tetapi dapat melayani aktifitas masyarakat didalam.
Bentuk desain lebih modern.

Tabel Perbandingan Arsitektur Ttradisional, Vernakular dan Neo Vernakular.
Sumber : Sonny Susanto, Joko Triyono, Yulianto Sumalyo
Dalam hal ini, pengertian arsitektur vernacular sering disamakan dengan arsitektur tradisional dan dapat diartikan bahwwa secara konotatif kata tradisi dapat diartikan sebagai pewarisan atau penerusan norma-norma adat istiadat atau pewaris budaya yang turun temurun dari generasi ke generas. Arsiektur dan bangunan tradisional merupakan hasil seni budaya tradisional, yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia budaya tradisional, yang mampu memberikan ikatan lahir batin.



TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL


TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Pengambilan sampel dilakukan dalam rangka penghematan biaya, tenaga, dan waktu, namun karena cara pengambilan sampel beraneka ragam teknik pengambilan sampel harus ditentukan berdasarkan tujuan penelitian serta kondisi populasi seperti luas, sebaran dan sebagainya.
Secara umum, teknik pengambilan sampel dapat dilakukan dengan acak (random sampling) dan tanpa acak (nonrandom sampling). Dikatakan pengambilan sampel secara acak, bila pengambilan sampel dilakukan sedemikian rupa sehingga probabilitas setiap individu diambil sebagai sampel diketahui,  sedangkan pada pengambilan sampel tanpa  acak, probabilitas setiap unit untuk diambil sebagai sampel tidak diketahui dan factor subjektif memegang peranan penting.

1.     Pengambilan sampel secara acak.
Pengambilan sampel secara acak (random sampling) mendasarkan diri pada prinsip peluang. Artinya, setiap “individu” anggota populasi yang diteliti harus memiliki peluang yang sama untuk dapat dijadikan sampel. Oleh karena itu, teknik random sampling juga disebut teknik probability sampling. Agar setiap individu anggota populasi berkesempatan untuk terpilih menjadi sampel dilakukan pengacakan  atau perandoman yang dilakukan dengan cara diundi. Dengan cara demikian, sampel yang tercuplik benar-benar dapat mewakili populasinya.

Pengambilan sampel secara acaka terdiri dari 5 jenis yaitu:
ü  Pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling)
Yang dimaksud dengan pengambilan sampel acak sederhana ialah pengambilan sampel sedemikin rupa sehingga setiap unit dasar (individu) mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel.
Cara ini merupakan cara sederhana, namun dalam praktek jarang digunakan secara tunggal terutama dalam pengambilan sampel terhadap populasi yang besar, tetapi caa ini mempunyai arti yang ssangat penting karena pengambilan sampel acak sederhana merupaakan acak dari pengambilan sampel yang lain.

Contoh:
Misalnya dalam melakukan sebuah penelitian tugas akhir  dibutuhkan 20 sampel, sedangkan populasi penelitian berjumlah 200 orang.
Maka disini, si peneliti harus melakukan undian mendapatkan sampel pertama.

ü  Pengambian sampel acak dengan stratifikasi
Merupakan pengambilan sampel yang dilakukan dengan membagi populasi menjadi beebrapa strta dimana setiap strata adalah homogen, sedangkan antar strata terdapat sifat yang berbeda, kemudian dilakukan pengambilan sampel pada setiap strata.
(Sumber: Budiarto, Eko.(2002). Metode Penelitian kedokteran. Jakarta. Penerbit buku kedoteran EGC)
Contoh:
Misalnya disni kita melalukan penelitian tentang perilaku merokok mahasiswa arsitektur universitas trisakti.
Dari 1000 mahasiwa dibuat strata laki-laki dan strata perempuan diperoleh strata laki-laki 400 orang dan strata perempuan 600 orang . disini misalnya peneliti membutuhkan 100 sampel maka masing-masing strata diambil 50 sampel (100/2). Proposi strata laki-laki (400/1000)x100=40. Maka sampel yang diambil dari strata laki-laki sebanyak 40 sampel.  Dan untuk strata perempuannya (600/1000)x100=60. Jadi disini sampe yang diambil ari strata perempuan sebanyak 60 sampel.
ü  Pengambilan sampel acak bertahap
Cara ini merupakan salah satu model pengambilan sampel secara acak yang pelaksanaannya dilakukan dengan membagi populasi menjadi beberapa fraksi kemudian diambil sampelnya. Sampel fraksi yang dihaslkan dibagi lagi menjadi fraksi-fraksi yang lebih kecil dan diambil lagi sampelnya. Pembagian fraksi ini dilakukan terus sampai pada sampel yang diinginkan. Unit sampel pertama disebut primary sampling unit (PSU.)Pengambilan sampel acak bertingkat ini biasanya digunakan bila kita mengambil sampel dengan jumlah yang tidak banyak pada populasi yang besar.

Contoh:
Misalnya akan diadakan penelitian tentang pola pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh penduduk sebuah kota. Disini, kota tersebut menjdi populasi studi dengan RT sebagai unit sampel dan kelurahan kelurahan sebagai PSU. Dari jumlah PSU tersebut diambil sampel dengan cara acak sedrhana kemudian sampel kelurahan dibagi  menjadi RW dan diambil sampelnya. Selanjutnya, dari sampel RW diambil sampel RT dan semua penduduk dewasa dalam RT tersebut merupakaan sasaran penelitian.

ü  Pengambilan sampel acak sistematik
Dikatakan pengambilan sampel acak sistematis bila pengambilan sampel acak dilakukan dengan berurutan dengan interval tertentu.besarnya interval (i) dapat ditentukan dengan membaagi populasi (N) dengan jumlah sampel yang diinginkan (n) atau I = N/n.

Contoh:
misalnya kita akan meneliti pola penyakit selama 1 tahun yang terjadi disuatu rumah sakit maka kartu penderita merupakan populasi studi.
Misalkan terdapat 1000 kartu dan akan diambil menjadi sampel 10% atau 100 buah kartu denan interval 1000/100=10
Pengambilan sampel pertama yang terletak anata nomor urut 1-10 dapat dilakukan dengan acak sederhana atau diambil kartu yang terletak ditengah antara kartu pertama dengan kartu kesepuluh.
Selanjutnya diambil sampel dengan interval 10 sampai dengan jumlah yang kita inginkan. Mislnya sampel pertama adalaah nomor urut 5, maka sampel kedua adalah nomor urut 15 dan sampel ketiga adalah nomor urut 25 dan seterusnya.

ü  Pengambilan sampel kelompok (cluster sampling)
Pengambilan sampel kelompok dilakukan bila kita akan mengadakan suatu penelitian dengan mengambil kelompok unit dasar smpel.

Contoh:
Disini misalnya kita mengadakan penelitian di universitas Trisakti tentang status gizi universitas Trisakti maka sebagai unit sampel adalah universitas Trisakti. Bila seluruh sampel mahasiswa universitas trisakti diteliti status gizinya maka disebut one stage simple cluster sampling.
Bila setelah diperoleh sampel universitas dilakukan pengambilan sampel lagi maka disebut two stage simple cluster sampling.

2.     Pengambilan sampel tanpa acak.
Pengambilan sampel tanpa acak ini digunakan bila kita ingin mengambil sampel yang sangat kecil pada populasi besar karena pada kondisi demikian dengan cara apapun tidak mungkin mendapatkan sampel yang dapat mengambarkan keadaan populasinya, bahkan mungkin dengan pengambilan sampel tanpa acak akan menghasilkan bias yang lebih kecil dibandingkan pengambian sampel secara acak
Pengambilan sampel tanpa acak yang akan diurai meliputi:
1.     Pengambilan sampel seadanya
2.     Pengambilan sampel berjatah
3.     Pengambilan sampel dengan pertimbangan

1.     Pengambilan sampel seadanya.
Pengambilan sampel yang dilakukan secara subjektif oleh peneliti ditinjau dari suut kemudahan, tempat pengambilan sampel, dan jumlah sampel yang akan diambil. dalam dunia kedokteran, cara ini sudah tidak digunakan lagi, tetapi masih digunakan dalam bidang social ekonomi dan politik untuk mengetahui opini masyarakat tentang suatu hal.

Contoh:
Apabila kita meneliti tentang pendapat masyarakat terhadap larangan merokok karena merugikan kesehatan , untuk pengambilan sampelnya maka peneliti cukup brdidr dipinggir jalan lalu menanyakan kepada orang-orang yang ebetulan lewat tergantung keinginan peneliti dengan jumlah yang seadanya ssampai sudah merasa cukup. Selanjutnya, data yang dikumpulkan di olah dan ditarik kesimpulannya.kesimpulan yang ditarik tersebut akan menghasilkan bias yang sangat besar.

2.     Pengambilan sampel berjatah.
Caranya hamper sama dengan pengambilan sampel seadanya , tetapi dengan control yang lebih baik untu mngurangi bias.pelaksanannya sangat tergntung pada peneliti tetapi dengan jumlah dan juga kriteria yng suah ditentukan sebelumnya.

Contoh:
Misalnya kita melakukan penelitian mengenai tingkat pendidikan masyarakat. Dalam hal ini, telah ditntukan dengan jumlah 100 orang dengan kriteria 50 orang laki-laki dan 50 orang perempuan yang berumur antar 25-35 tahun, tetapi disini 50 orang laki-laki an 50 orang perempuan yang akan diwawancarai atau yang akan dijadiin sampel untuk diawancarai tergantung sepenuhnya  pada peneliti.

3.     Pengambilan sampel dengan pertimbangan.
Dikatakan pengambilan sampel dengan pertimbangan bila cara pengambilan sampel dilakukan dengan sedemikian lupa sehingga kewakilannya ditentukan oleh peneliti  berdasarkan pertimangan orang-orang berpengalaman. Cara ini bisa dikatakan lebih baik dari dua cara sebelumnya karna dilakukan berdasarkan pengalaman dari berbagai pihak.

Contoh:
Pengambilan sampel satu desa dalam suatu kabupaten yang dapat mewakili akan sangat sulit dilakukan secara acak. Dalam kondisi demikian maka cara yang memadai adalah dilakukan pengambilan sampel dengan pertimbangan orang-orang yang sudah brpengalaman hingga didapat sampel yang cukup dapat mewakili suatu kabupaten tersebut.

Kesimpulan
Dari uraian diatas, maka saya mengambil kesimpulan bahwa metode pengambilan sampel dapat dilakukan dalam rangka penghematan biaya, tenaga dan waktu. Namun karena cara pengambilan sampel harus ditentukan berdasarkan tujuan penelitian dan kondisi populasi seperti luas, sebaran dan sebagainya. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara acak (random sampling) dan tanpa acak (nonrandom sampling). Pengambilan sampel secara acak dilakukan secara objektif sedemikian rupa sehingga propabilitas setiap unit sampel diketahui, sedangkan pengambilan sampel tanpa acak dilakukan sedemikian rupa sehingga propabilitas setiap unit sampel tidak diketahui dan faktor subjektif memegang peran penting. Oleh karena itu, pengambilan sampel tanpa acak ini, walaupun dilakukan sedemikian rupa sehingga mempunyai tingkat kewakilan yang tinggi, tetapi tidak dapat dievaluasi secara objektif.

 (Sumber: Budiarto, Eko.(2002). Metode Penelitian kedokteran. Jakarta. Penerbit buku kedoteran EGC)
(Sumber: Sarwono,jonathan.(2003). metode penelitian kuantitatif.yogyakarta)

Saratoga Hill House, Camano Island


Saratoga Hill merupakan sebuah rumah tinggal keluarga baru yang dirancang untuk pasangan yang telah berkeluarga dan ingin hidup hemat terletak di sisi barat pantai dari Camano Island. Disekitar rumah ini tidak terdapat tempat parkir khusus, sehingga mengharuskan untuk memarkir di parkiran umum dan akses kerumah melalui jalan yang berdekatan dengan sekat pantai.
               
                
               
Selama tiga generasi, pemilik rumah ini harus mewarisi properti pantai yang memiliki kabin kecil diatasnya, karena it sangat penting untuk melanjutkan tradisi keluarga untuk anak-anak dan cucu-cucunya.
               
Saratoga Hill ini teerletak dibagian bawah lereng yang sngat curam dengan hasil penelitian sangat aman untuk membangun rumah edengan teknik bangunan konvensional. Menurut insinyur Geoteknik dalam membangun rumah disini harus membuat dinding penahan 10 kaki yang tinggi dan besar sehingga mampu menangkap berbagai kotoran yang turun dari bukit serta melindungi struktur bangunan; tetapi karena bangunan ini terletak disepanjang pantai terpencil yang tidak memiliki akses kendaraan, sehingga membangun dinding penahan itu tidak layak karena sangat sulit untuk mendatangkan alat berat dan truk beton. Sebagai alternatif, arsitektur merancang strategi yang memungkinkan puing-puing mengalir melalui struktur kolom baja daripada tidak sama sekali. 
                

Bangunan ini terdiri dari 2 lantai, dimana lantai satu lebih rendah dan terbuka sementara lantai dua untuk menanggapi topografi dan memperoleh pemandangan terhadap pantai. Pada lantai 1 tidak terdapat kamar/ruang untuk dihuni dan bagian ujung utara dikembangkan ubntuk taman.
Bagian timur rumah ini menghadap kelerng yang curam dengan material jendela dengan kaca buram untuk memberikan pandangan terhadap vegetasi yang ada dilereng.
                

TEORI ARSITEKTUR

Pengertian Teori Arsitektur
Suatu teori dalam arsitektur digunakan untuk mencari apa yang sebenarnya harus dicapai dalam arsitektur dan bagaimana cara yang baikuntuk merancang. Teori dalam arsitektur cenderung tidak seteliti dan secermat dalam ilmu pengetahuan yang lain (obyektif), satu ciri penting dari teori ilmiah yang tidak terdapat dalam arsitektur ialah pembuktian yang terperinci. Desain arsitektur sebagaian besar lebih merupakan kegiatan merumuskan dari pada kegiatan menguraikan. Arsitektur tidak memilahkan bagian-bagian, ia mencernakan dan memadukan bermacam ramuan unsur dalam cara-cara baru dan keadaan baru. Sehingga hasil seluruhnya tidak dapat diramalkan. Teori dalam arsitektur adalah hipothesa, harapan dan dugaan-dugaan tentang apa yang terjadi bila semua unsur yang menjadikan bangunan dikumpulkan dalam suatu cara, tempat, dan waktu tertentu.
                                (TEORI DAN TEORI ARSITEKTUR – Direktori File UPI)

1.     Macam Teori Arsitektur
a.     Teori Positif & Normatif
Teori positif merupakan suatu proses kreatif yang mencakup pembentukan struktur konseptual, baik untuk menata maupun untuk menjelaskan hasil suatu pengamatan. Tujuannya adalah agar struktur ini dapat digunakan untuk menjelaskan apa yang terjadi dan membuat prediksi mengenai apa yang mungkin terjadi.
Nilai dari teori positif ini bergantung pada kekuatan penjelasan dan prediksinya. Teori-teori yang berhasil adalah teori yang sederhana, tetapi mampu menggeneralisasikan fenomena dunia dan dalam penggunaannya dapat membantu kita melakukan prediksi dengan akurat. Hal ini memungkinkan seseorang mendapatkan sejumlah pernyataan deskriptif dari sebuah pernyataan yang sederhana.
Dalam perancangan, salah satu fungsi teori positif adalah meningkatkan kesadaran mengenai perilaku mana dalam lingkungan yang penting bagi manusia sehingga dalam pengambilan keputusan desain, hal tersebut tidak luput menjadi bahan pertimbangan. Oleh karena itu, dengan teori positif berbagai isu ini dapat didiskusikan dengan jelas dan gamblang sehingga dapat menjembatani celah yang ada antara rancangan yang intuitif dan ketidaksadaran akan perilaku yang penting bagi manusia karena berbagai aspek dalam desain dapat dijelaskan secara eksplisit.
Berbeda dengan Teori Normatif, yang berangkat dari konsensus tentang segala sesuatu yang disepakati untuk waktu tertentu atau tentang patokan apa yang disebut baik atau apa yang seharusnya dilakukan, sebuah teori positif akan memperhitungkan adanya pengalaman dari beragamnya karakter manusia yang mengakibatkan beragam pula bentuk tuntutan akan lingkungan fisik.

Adapun sumber lain yang menjelaskan tentang Teori Positif dan Teori Normatif :
Teori Positif adalah teori yang dibangun berdasarkan metode ilmiah (rasional dan scientific), yaitu berdasarkan pengalaman dan pengujian empirik, melalui pengamatan, penguraian, dan penjelasan atas fenomena.
Teori Normatif adalah teori yang dibangun berdasarkan pandangan dunia (paradigma, filosofi) dari para filsuf, politisi, perencana, dan arsitek. Teori ini lebih berdasarkan ideologi daripada observasi dan pengalaman empirik.

( Prof. Dr. M.S. Barliana, MPd, MT.IAI – Teori Arsitektur (UPI) )
1.TEORI POSITIF
Teori Positif merupakan pernyataan yang tegas yang melukiskan, menerangkan kenyataan dan mampu untuk memperluas prediksi terhadap kenyataan-kenyataan di masa datang. Teori positif merupakan pernyataan-pernyataan positif yaitu pernyataan tegas tentang realita (sebagaimana adanya).
Teori positif pada hakekatnya bersifat empirik dan  tentative. Teori positif tidak akan menyiratkan bahwa sebenarnya teori-teori itu harus sesuai dengan epistimologi para positifist yang berpedoman bahwa tidak ada kebenaran sebelum ada tahap pembuktian sesuatu dan pembongkaran kepalsuannya.
a.      Fungsi Teori Positif
Fungsi utama dari teori ini adalah membuka jalan bagi peneliti untuk memperoleh sesuatu yang bernilai besar dari beberapa pernyataan deskriptif suatu pernyataan tertentu. Nilai besar dan murni itulah yang menguatkan pendapat bahwa suatu teori positif berfungsi untuk semua disiplin ilmu dimana kemudian memberikan batasan yang jelas dengan tahapan seperti sistem control yang baik. Fungsi lain dari teori positif adalah untuk meningkatkan kesadaran berperilaku dalam penciptaan lingkungan yang penting bagi mausia dank area itu harus memiliki dampak dalam keputusan perencanaan.
b.      Tujuan Teori Positif
·   Untuk menjelaskan fenomena maupun memprediksikan hasil-hasilnya sehingga dapat diprediksikan langkah-langkah yang harus diambil.
·      Untuk memberikan kemungkinan masyarakat ilmuwan dalam memperoleh banyak pernyataan deskriptif dari pernyataan tunggal (Alan Johnson, 1994).
·  Untuk Menghindari bias, menghindari unsur subyektifitas dan melihat pada alternatif.
2.TEORI NORMATIF
Teori normatif bagi Kevin Lynch dalam “Good City Form” menguraikan hubungan-hubungan yang dapat digenerlisasi antara nilai-nilai manusia dan bentuk tempat tinggal atau bagaimana mengetahui sebuah kota yang baik dengan melihat kota lainnya (1984;37).
Tetapi berkembang menjadi tidak terkendali menjadi suatu kekeliruan naturalistik. John Lang (1987) juga melihat teori normatif sebagai penentu untuk kegiatan tetapi dalam bentuk yang prinsipil, standar-standar dan manifesto yang menuntun kegiatan.
Teori normatif adalah teori yang berasal dari suatu ideology dan bermacam-macam orientasi professional dengan membandingkan sesuatu sehingga memunculkan suatu guidelines dan prinsip-prinip sampel dari suatu proses keputusan dalam desain. Teori normatif berhubungan dengan posisi prinsip dari sampel dari suatu proses keputusan dalam desain. Teori normatif berhubungan dengan posisi dan kedudukan yang berbeda mengenai apa yang telah dilakukan atau yang dapat dilakukan pada lingkungan terbangun dan atau  pada proses desain yang seharusnya dilakukan designer atau arsitek.

b.     Teori Substantif
Berkaitan dengan kajian tentang fenomena lingkungan alam dan perilaku manusia yang membantu memperkaya dan menjadi bahan pertimbangan Arsitek atau Perancang dalam perancangan arsitektur.
Bidang Kajian Teori Substantif
Ø Natural Environment Theory : Kajian yang berkaitan dengan lingkungan fisik, kimiawi, dan geologi di sekitar manusia dan organisme lain. Hal ini menjadi masukan dalam pengolahan material, geometri bentuk, perhitungan struktur, pengaruh lingkungan alam (angin, matahari, hujan, dll) dalam perancangan arsitektur.
Ø Person Environment Theory : Kajian yang berkaitan dengan aspek biologik, psikologik, sosial, dan kultural manusia. Hal ini akan menjadi masukan dalam penataan pola aktivitas, organisasi, program ruang, serta bentukan arsitektur berdasarkan karakteristik prilaku pemakai. 
                          ( Prof. Dr. M.S. Barliana, MPd, MT.IAI – Teori Arsitektur (UPI) )

c.     Teori Metodologis (Prosedural)
Berkaitan dengan metode/prosedur dalam  praktek perencanaan dan perancangan arsitektur, yang mencakup proses perumusan gagasan/kreativitas, serta proses analisis, sintesis, dan evaluasi.
                         ( Prof. Dr. M.S. Barliana, MPd, MT.IAI – Teori Arsitektur (UPI) )                   

ARSITEKTUR BAROK

Sejarah Arsitektur Barok


Tidak diketahui secara pasti dari mana asal kata ‘barok’, namun diperkirakan berasal dari  bahasa Spanyol “barrueco”  dan bahasa portugis “barocco” yang berarti permata dengan bentuk tak beraturan. Barok merupakan istilah untuk mengkategorikan perkembangan peradaban manusia (termasuk seni) dalam sebuah era yang terjadi di Eropa. Karya-karya seni yang tercipta pada zaman barok juga merupakan cerminan keadaan zaman tersebut sehingga memiliki ciri-ciri khusus yang tentunya berbeda dengan corak seni pada zaman-zaman sebelumnya. Corak seni barok mengandung unsur tekanan yang kuat, kekuatan emosi, dan sesuatu yang elegan, dan sense of movement.

Arsitektur Barok mulai berkembang pada abad ke-17 awal di Italia yang muncul akibat perkembangan Gereja Katolik yang membuat gerakan untuk melawan perkembangan Protestanisme dan lebih menyebarluaskan Gereja Katolik. Yang juga diaplikasikan pada bentuk seni pada Gereja. Arsitektur, patung, lukisan dan music digabungkan dengan cara baru yang teaterikal untuk menekankan ajaran Katolik sehingga membuat penyampaian pesan lebih atraktif dan menarik. Selain di Gereja, gaya arsitektur barok juga kerap diaplikasikan pada bangunan-bangunan istana.

Ciri Arsitektur Barok
  • Denah lantai dasar biasanya juga oval, yang merupakan bentuk geometris paling ‘bergerak’ (fluid) dan yang menciptakan rasa pergerakan. Ruang tengah yang lebih luas, terkadang berbentuk sirkuler dan terdapat kapel-kapel di bagian samping sepanjang dinding.
  • Pada bangunan gereja, sumber pencahayaan sedikit, umumnya dari kubah, baik kubah pusat ataupun kubah-kubah kecil di sekelilingnya. Namum memiliki jumlah yang tepat dan menyinari bagian yang tepat juga.  Penggunaan cahaya yang dramatis, dengan penggunaan cahaya yang kuat dan bayangan yang kontras (chiaroscuro effects) atau pencahayaan seragam dengan menggunakan beberapa jendela.
                                             
       Kiri:Gereja Weltenburg Abbey yang menggunakan permainan cahaya kuat dan bayangan kontras.
        Kanan: Gereja Weingarten Abbey yang memiliki pencahayaan seragam dengan menggunakan beberapa jendela
  • Penggunaan ornament yang mewah. Bentuk oval diterapkan pada bingkai pahatan dinding (frame wall carving). Altar kaya dengan dekorasi dan baldachin (Baldachin adalah semacam kanopi, umumnya  berbentuk kubah, yang disangga oleh empat kolom yang juga kaya dengan dekorasi ukiran). Dekorasi dinding menggunakan stucco (bahan yang fleksibel, sehingga membantu menciptakan garis-garis lengkung).
  • Langit-langit dengan lukisan yang besar. Efek Ilusi seperti trompe l'oeil yang menyatu dengan lukisan dan arsitektur.
  • Interior seringkali terdapat shell untuk lukisan dan patung
                                    
  • Permainan dinding-dinding bergelombang cekung dan cembung pada eksterior maupun interior yang memberikan kesan pergerakan. Pilar-pilar dibentuk berpilin/memutar. Banyak terdapat ornamen pahatan pada eksterior maupun interior, dan menggunakan warna-warna yang cerah.
  • Fasad eksternal sering disertai dengan penonjolan sentral yang dramatis, order raksasa, biasanya setinggi dua lantai, dan dinding raksasa. Tebing layar-nya bisa berbentuk lengkung kurva, ataupun lengkung yang mengarah ke atas bertemu pada puncaknya.
  • Jendela-jendela besar berbentuk persegi panjang, dan jendela yang lebih kecil, yang mempunyai lebih banyak ornament, berbentuk lingkaran, setengah lingkaran, atau oval.
  • Mempunyai kubah, pediment, kolom, pedestal, pilaster, entablature, dan komponen-komponen klasik lainnya, namun bentuk segitiga/pedimenter tidak berfungsi langsung sebagai bentuk segitiga atap, namun hanya sebagai tambahan yang berfungsi langsung sebagai pintu utama atau  pintu masuk suatu bangunan
Tipologi Arsitektur Barok
Jenis-jenis bangunan pada masa barok diantaranya :
Tempat ibadah, yaitu gereja 
                                      
Pusat pemerintahan, yaitu istana
                                      
Bangunan-bangunan umum lainnya yang memiliki skala besar, tempat ziarah, dan pusat-pusat kegiatan interaksi masyarakat baik formal maupun nonformal

Tokoh dalam gaya arsitektur barok diantaranya Gian Lorenzo Bernini, Carlo Maderno, Francesco Borromini, dan Guarino Guarini.

Contoh Bangunan di Italia
Church of Saint Susanna (1597-1603)
                                       
Adalah sebuah Gereja Katolik yang terletak di Quirinal Hill, Roma, Italia. Dirancang ulang oleh arsitek bernama Carlo Moderno.
Gereja Barok awal ini memiliki dua cerita di fasad depan, dengan bagian atas yang lebih sempit daripada bagian bawahnya, meskipun volutes di lantai atas menutupi perbedaan. Sebuah pediment segitiga menjadi mahkota. Rasa vertikal yang kuat dicapai dengan elemen diulang pada kedua bagian (pengulangan kolom pilaster) dan oleh pemecahan divisi horisontal dengan pediment dari bagian yang lebih rendah.
Fasad bangunan Santa Susanna sangat mirip dengan fasad il Gesù. Bagian depan yang dirancang vertical dengan menggunakan beberapa elemen horizontal. Memiliki fitur fasad tabernakel dan fasad aedicular. Bangunan ini ditutupi aedicules vertikal sejajar, atau niches. Banyak celah pahatan dan berbatasan dengan elemen arsitektur lain seperti pediments dan pilaster.
Meskipun ini adalah sebuah contoh awal dari arsitektur Barok, merupakan pertanda perkembangannya kemudian, terutama dalam penggunaan patung figural dalam niches dan gerakan dinamis menuju pusat. Tidak hanya lebar bay meningkat menuju pusat (dengan pintu mengisi seluruh bay), tapi ada sedikit gerakan menuju pusat karena bay luar diakhiri dengan pilaster sedangkan bagian dalam bay dibingkai dengan kolom. Bay lateral yang di sebelah bay pusat memiliki niches dengan patung, yang memberikan keunggulan ke pusat, dan pusat tampaknya dibingkai oleh kolom ganda (pilaster pada cerita kedua), yang juga meningkatkan fokus pada pusat.
Pintu utama berada di dalam niche. Pintu masuk di kelilingi oleh kolom Corinthian menonjol yang merupakan peninggalan dari fasad sebelumnya. Kolom ini telah dibangun ke pusat dengan kolom lain yang terpasang dan pilaster. Maderno menciptakan peningkatan yang dinamis menuju pusat dengan menggunakan kombinasi pilaster-kolom. Ia juga menciptakan kedalaman dengan membawa kolom paling dekat dengan bagian tengah yang jauh dari bangunan.
Fasad utama Santa Susanna dibangun dari marmer seperti batu, untuk menandakan bahwa itu adalah unsur yang paling penting untuk dilihat. Disekeliling gereja utama adalah biara yang terbuat dari batu bata. 

Church of Saint Andrew's
                                  
Merupakan Gereja Katolik Roma. Berada di Roma, Italia. Merupakan contoh bangunan lain yang menggunakan gaya arsitektur barok, didesain oleh Gian Lorenzo Bernini dan Giovanni de’Rossi. Dibangun pada 1661 hingga 1670. Fasad utama gereja menghadap ke Via del Quirinale. Ruang luar gereja tertutup oleh dinding melengkung kuadran rendah. Silinder oval menutupi kubah, dan volutes besar mentransfer dorongan lateral. Fasad utama ke jalan memiliki bingkai pedimented aedicular di pusat teras berbentuk setengah lingkaran dengan dua kolom ionik menandai pintu masuk utama. Di atas entablature teras adalah mantel heraldik senjata dari pelindung Pamphili

Di dalam, pintu masuk utama terletak pada sumbu pendek gereja dan langsung menghadap altar. Bentuk oval ruang jemaat utama gereja didefinisikan oleh dinding, pilaster dan entablature, frame kapel samping, dan kubah emas di atas. Kolom besar mendukung pedimen melengkung membedakan ruang tersembunyi dari altar dari ruang jemaat.

berbeda dengan sisi gelap kapel, niche altar tinggi menyala dari sumber tersembunyi dan menjadi fokus visual yang utama bagian bawah interior. Akibatnya, jemaat secara efektif menjadi 'saksi' ke narasi teatrikal dari St Andrew yang dimulai di kapel Tinggi Altar dan berpuncak pada kubah.

Contoh Bangunan di Perancis
Château de Maisons 
                                         
Dirancang oleh François Mansart 1630-1651, adalah contoh utama dari arsitektur barok Perancis dan titik acuan dalam sejarah arsitektur Perancis. Château ini terletak di Maisons-Laffitte, pinggiran barat laut Paris, Perancis.
Château de Maisons dibangun antara Seine dan hutan Saint-Germain-en-Laye, dengan depan taman yang berorientasi ke arah tenggara. Awalnya taman terdiri dari taman kecil 33 hektar dan sebuah taman luar besar 300 hektar. Pengunjung tiba dengan salah satu dari dua jalan yang melintas di persimpangan T sebelum gerbang ke cour d'honneur. Sumbu pusat utama mengarah ke hutan, sumbu silang melalui desa ke barat daya dan ke sungai, sampai Paris. Tiga gateway berdiri di ujung jauh dari jalan.
                                           
Château berdiri pada platform persegi panjang simetris, yang diuraikan dengan cara Perancis dengan parit kering. The cour d'honneur didefinisikan oleh teras. Blok sentral meluas simetris menjadi sayap pendek, terdiri dari beberapa bagian, masing-masing dengan garis atap sendiri, dengan atap meraup dan tumpukan cerobong tinggi, di beberapa rentang, dengan fasad patah. Pembangunan tiang tunggal khas zamannya memiliki tiga lantai, ruang bawah tanah mendukung lantai dasar dan piano nobile dengan tiga lantai loteng di atas.
                                           
Apartemen di sebelah kanan, disebut Appartement de La Renommee sepenuhnya didekorasi ulang oleh Bélanger untuk comte d'Artois dalam gaya neoklasik bijaksana cukup sesuai dengan gaya klasik umum château. Yang di sebelah kiri, di sisi lain, Appartement du Roi juga disebut à l'italienne dalam hal ini ditutupi kubah palsu. Apartemen ini terdiri dari luas Salle des fêtes digunakan juga dalam karakter ruang jaga, dengan tribun untuk musisi. 
 
Copyright © -2012 ARCHITECTURE DAN KOTA All Rights Reserved | Template Design by ARCHITECTURE DAN KOTA |